JEJAK KAKI LUSUH YANG BERKEMBANG part 2
Pagi yang cerah tepat pukul 06.30 di hari senin.Suara nyaring yang
dapat memecahkan gendang telinga mulai terdengar di pagi buta.Siapa lagi yang
suaranya yang dapat mencapai 1000 oktaf selain Bunda dari Zen.
“Zeeeeeennnnnnnnnn…
bangun mau sampai kapan kamu mau mendengkur sudah saatnya sholat subuh…!”
teriak bunda dan tangan mulai melayang dengan keras ke paha zen.
“ Awwwwwwwww,iya
bun. Zen sholat subuh kok…!” sambil memegang pahanya yang dipukul oleh bundanya
dan mata masih setengah tertutup.
“ KALAU IYA ITU,
CEPAT BANGUN……!(teriak dengan nada 1000 oktaf lagi) huffff….(menarik nafas
panjang menandakan bunda menenangkan diri) ok..sayang bangun ya bunda capek bolak-balik bangunin kakak-kakakmu dan ditambah
kamu yang tidurnya juga kayak mayat..!" kata bunda dengan mencoba menenangkan
diri.
“ iya, bun. Nich
zen dah bangun…… tapi zen mau mandi dulu yach!” kata zen dengan muka yang
mengantuk.
Zen akhirnya bangun dari tidurnya dan mencium pipi bundanya untuk
menenangkan hati bundanya. Kemudian zen pergi ke kamar mandi untuk mandi dan
berwudhu. Setelah itu ia pergi sholat tetapi tetap saja suara bunda zen menggelegar
membangunkan dua kakak cowoknya yang tidurnya seperti mati suri. Tiba-tiba ada
suara besar dan lembut muncul.
“Bunda……sudahlah
jangan teriak-teriak malu sama tetangga..” kata suara besar dan lembut itu.
Suara itu adalah suara Ayah Zen yang akan ikut campur di setiap pagi jika suara
bunda zen melebihi 1000 oktaf.
“ Ayah…bunda begini
karena dua anak ayah tidurnya seperti orang mati suri…”jawab bunda geram.
“ iya ayah tau.
Biar ayah aja ya yang bangunin.Bunda sekarang siapin aja sarapannya ya.” Kata
ayah lembutke bunda.
Bunda jauh lebih tenang dan mulai ke dapur untuk menyiapkan
makanan. Inilah “gongnya” ketika macan(bunda zen) tidak bisa membangunkan 2
anak kancil (kedua kakak zen Rayen dan Iyo)itu maka bertindaklah Singa (Ayah
zen). Itu lah perkataan zen setiap kali kedua kakaknya yang tidak bisa di
bangunin oleh bunda maka ayahnya yang akan membangunkannya karena ayahnya
terbilang keras kalau mengenai sholat dan sekolah.
“ Rayen, iyo bener
tidak mau bangun nie.. sudah waktunya sholat subuh loh” kata ayahnya lembut.
Tapi bagi kedua kakak zen itu bagai suara MALAIKAT MAUT, dalam hitungan sekejab
mereka berdua terbangun dan tersentak.
“iya,yah nie dah
bangun…” kata rayen sambil mencoba untuk membuka mata yang masih sangat berat.
“iya ini juga udah
bangun dari tadi kok, yah.”kata iyo sambil mencoba untuk bangun dari tempat
tidur.
“kalau emang dah
bangun dari tadi kenapa masih pake selimut dan membuat pulau di bantal… dah
sana cepat ambil wudhu dan gosok gigi” kata ayah dengan nada lembut.
Mereka berdua langsung bergerak menuju kamar mandi dan tubuh
terhuyung-huyung karena ngantuk. Kemudian mereka mulai pergi sholat subuh,
selasai sholat mereka sarapan dan langsung pergi ke sekolah untuk kakak zen
yang kedua dan ke kampus untuk kakak zen yang pertama.
“bun,…berangkat
dulu.!” Kata Rayen sambil mengambil tasnya.
“iya..,bentar…!”
teriak bunda ke Rayen.
“bun,…cepet.. zen
udah terlambat nich, upacaranya mau di mulai nanti zen kena hukum nie!” geram
zen yang mulai jengkel menunggu karena setiap hari senin dia selalu bertemu
dengan guru TATEBSI (Tata Tertib Sekolah).
“iya..salah sendiri
bangun kesiangan. Jangan salahkan bunda dong..!” jawab bunda meledek.
“iya..iya,
assalamu’alaikum!”jawab zen kesal serta mencium tangan dan pipi bundanya.
“Assalamu’alaikum…bun!”
kata kedua kakaknya serta mencium tangan bundanya.
“Walaikumsalam..hati-hati!”
sahut bunda.
“Ayah berangkat juga
ya bun. Assalamu’alaikum..!” kata ayah serta mencium kening bunda dan kemudian
bunda mencium tangan ayah.
“Walaikumsalam..yah!”
sahut bunda.
“Ayah…………cepat. Zen
benar-benar terlambat nih sekarang!” rengek zen kepada ayahnya.
“iya, zen. Berarti
biasanya terlambatnya bohongan ya…!” canda ayahnya.
“AYAH…jangan mulai
deh. Ih..”jawab zen marah.
“he…he. Ya,anakku
dasar enggak sabaran,persis bundanya!” jawab ayahnya sambil mulai mengendarai
sepeda motornya untuk mengantar zen ke sekolah. Sedangkan Rayen mengantar Iyo
ke sekolah.
Komentar
Posting Komentar